detikJabar

Jawa Barat, tanah yang tidak pernah diam

Ina Nuryanah kehilangan tujuh anggota keluarganya dalam gempa dan longsor 2009. Enam belas tahun kemudian, gempa lain meruntuhkan rumah yang ia bangun untuk memulai hidup baru.

Tim detikJabar: Siti Fatimah (Sukabumi), Ikbal Selamet (Cianjur), Hakim Ghani (Garut), Bima Bagaskara, Rifat Alhamidi, Wisma Putra, Whisnu Pradana, Yuga Hassani (Bandung Raya)

Diterbitkan 30 September 2026

LOKASI REPORTASENagrak · Sukabumi

Jalur sesar, rumah yang bertahan, dan kampung yang ditinggalkan.

SukabumiCianjur

Salah satu rumah warga di Kampung Cieunder, Desa Bunisari, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tampak miring setelah terdampak gempa pada 2022.

Ina Nuryanah, 29 tahun, mengalami dua gempa mematikan dalam hidupnya. Relokasi ke kampung baru ternyata tidak menghapus ingatan itu.

Pada 2 September 2009, ketika tinggal di Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Ina menyaksikan gempa besar yang disusul longsor. Material tanah dan batu menimpa permukiman di bawah tebing.

"Begitu gempa, saat itu warga langsung berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri, khawatir rumahnya ambruk dan menimpa," ujar Ina.

Beberapa saat kemudian, tebing longsor. Tujuh anggota keluarga Ina menjadi korban. Lima orang ditemukan, sedangkan kakak ipar dan keponakannya masih terkubur.

"Antara percaya tidak percaya. Berharapnya itu hanya mimpi. Tapi itu nyata. Tujuh keluarga saya jadi korban longsor akibat gempa,"

— Ina

Ina dan orang tuanya kemudian pindah ke Kampung Longkewang, Desa Gasol, Kecamatan Cugenang, untuk memulai hidup baru dan menjauh dari kenangan duka.

Namun, 16 tahun kemudian, gempa bermagnitudo 5,6 mengguncang Cianjur. Rumah Ina hancur. Ingatan tentang Cikangkareng kembali seketika.

"Kembali lagi rasanya percaya tak percaya. Dulu keluarga saya turut jadi korban meninggal, sekarang rumah saya hancur. Ditambah lihat sekitar juga hancur dan banyak jadi korban," kata Ina.

"Begitu terjadi gempa, seketika ingat kejadian yang di Cikangkareng. Sempat berpikir, selamat atau tidak sekarang," kata dia.

Saat guncangan membesar, Ina mengevakuasi nenek dan ayahnya. Seluruh penghuni rumah selamat tanpa luka serius, tetapi pemandangan di sekitar kembali memperlihatkan rumah-rumah hancur dan tetangga yang meninggal.

Ia tetap bersyukur selamat. Namun, dua bencana itu menjadi ingatan yang tidak mungkin dipindahkan, bahkan ketika rumah telah berpindah.

Di tempat lain, di Kampung Rawacina, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, rumah-rumah tidak lagi memiliki penghuni. Gempa bermagnitudo 5,6 pada 21 November 2022 merusak kampung itu dan memaksa warga pindah.

Yang tersisa adalah dinding dan atap yang runtuh, lahan yang kembali ditumbuhi tanaman, serta jalan yang sesekali dilalui warga lama. Mereka datang bukan untuk pulang, melainkan untuk memastikan sawah tetap hidup.

Ujang, 35 tahun, termasuk di antara mereka. Setiap dua atau tiga hari ia kembali ke Rawacina. Rumahnya ditinggalkan, tetapi sumber penghidupannya masih berada di sana.

"Dua hari sekali atau tiga hari sekali ke sini untuk cek sawah. Kalau musim panen atau masa tanam biasanya banyak yang datang untuk membantu. Tapi kalau kampungnya sudah tidak ada yang tinggal, semua sudah pindah," kata Ujang, warga Rawacina.

Ina memilih bertahan dekat kampung halamannya meski trauma datang dua kali. Ujang kembali karena tidak bisa meninggalkan sawah. Dua kisah itu menunjukkan bahwa bencana tidak hanya meruntuhkan bangunan. Ia juga memaksa warga memilih antara keselamatan dan keberlangsungan hidup.

Dua tanggal yang membuka jejak gempa Jawa Barat

Dari catatan tertua di Batavia hingga guncangan yang merambat dari Sumatera Selatan, dua peristiwa ini membuka cerita panjang tentang tanah Sunda yang tak pernah benar-benar diam.

1833
& 1834
VII–VIII & VIII–IX MMI

Jejak pertama: ketika gempa mulai tercatat di Jawa Barat

Catatan resmi tertua dalam katalog BMKG merekam gempa pertama di wilayah Jawa Barat terjadi pada 28 Januari 1833 pukul 12:00 WIB di wilayah Batavia/Jawa Barat dengan guncangan VII–VIII MMI yang meretakkan gedung. Disusul gempa dahsyat Bogor–Cianjur pada 10 Oktober 1834 (skala VIII–IX MMI), yang merobohkan permukiman warga dan membelah jalan raya penghubung Bogor–Cianjur.

1931
Sumatera Selatan
M 7.4

Guncangan dari Sumatera menyeberang ke tanah Sunda

Gempa pertama dari luar pulau yang gelombang kejutnya merambat ekstrem hingga Jawa Barat terjadi pada 25 September 1931. Gempa berkekuatan M 7.4 yang berpusat di Sumatera Selatan ini menimbulkan guncangan VII–VIII MMI di Jawa Barat, yang menyebabkan fondasi sebagian besar bangunan di tanah Sunda amblas.

Sumber: Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak BMKG 1821–2025.

Ikuti jejaknya: satu titik, satu cerita gempa

Peta ini menempatkan 74 catatan terbaru pada koordinat yang tersedia. Empat puluh tiga titik berada di kabupaten/kota Jawa Barat; titik lainnya berada di luar provinsi atau lepas pantai. Ketuk titik untuk membaca kisah di baliknya. Basemap lokal © Natural Earth (public domain). Playback menampilkan kejadian berdasarkan tahun. Lingkaran putus-putus menandai 11 kejadian tanpa koordinat presisi (umumnya sebelum awal abad ke-20), lokasinya diestimasi dari nama wilayah yang tercatat.

Dangkal ≤15 km Menengah 15–60 km Dalam >60 km Ukuran lingkaran = skala dampak
1833
Menampilkan 74 kejadian satu per satu menurut tahun. Playback hanya alat bantu membaca, bukan urutan tingkat bahaya.

Sumber: Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak BMKG 1821–2025. Basemap: Natural Earth (public domain).

Rumah yang tak bisa ditinggalkan

Setiap kali dinding rumahnya retak, Rodiyah tidak menghitung biaya untuk pindah. Ia menghitung biaya untuk menambalnya.

Plafon rumah Rodiyah pernah ambruk. Dindingnya retak rambut. Setiap kerusakan diperbaiki sebisanya, lalu kehidupan dilanjutkan di bawah atap yang sama.

Rumah itu berada di Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Wilayah tersebut dilalui jalur sesar dan termasuk kawasan rawan gempa. Rodiyah mengetahui risikonya. Namun rumah itu juga tempat keluarganya bekerja, menyimpan barang, dan menggantungkan penghidupan.

Bangunan hancur akibat gempa di Cianjur pada 2022
Bangunan hancur akibat gempa di Cianjur pada 2022. Foto: Ikbal Selamet

Meninggalkannya berarti mencari tanah baru, pekerjaan baru, dan biaya yang tidak sedikit. Bagi Rodiyah, semua itu sama sulitnya dengan bertahan di rumah yang tidak sepenuhnya aman.

"Mau pindah pun bingung ke mana, mau beli tanah lagi uang dari mana? Belum lagi seluruh penghidupan kami ada di sini. Jadi kalau ada kerusakan seperti plafon ambruk atau dinding retak, ya diperbaiki sebisa mungkin ketimbang harus pindah," tutur Rodiyah.

Rodiyah, 45 tahun, masih mengingat gempa tahun 2000 yang membuat warga Sukabumi panik. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang gempa bumi signifikan yang merusak pada 1821-2025, saat itu 470 rumah rusak berat, 2.375 rumah rusak ringan, dan 24 masjid rusak berat.

Lebih dari dua dekade setelah guncangan itu, yang berubah bukan tempat tinggal Rodiyah, melainkan cara keluarganya menghadapi kerusakan. Retakan ditambal. Plafon dipasang kembali. Barang-barang dijauhkan dari bagian yang rapuh.

Milky, Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Nagrak dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, melihat persoalan itu sejak bertugas pada 2019. Gempa Banten pada 2 Agustus 2019 dan Gempa Cugenang pada 21 November 2022 berdampak pada wilayah kerjanya.

"Dari 2019 semenjak saya menjadi P2BK Nagrak, Gempa Banten 2 Agustus 2019 dan Gempa Cugenang 21 November 2022 berdampak cukup signifikan," kata Milky.

Menurut dia, kerusakan sering kali diperparah kondisi bangunan. Banyak rumah berusia tua, tidak memiliki struktur memadai, atau dibangun menggunakan material yang lapuk.

"Kerusakan yang terjadi sering kali disebabkan rumah tidak tahan getaran, rumah sudah tua, atau konstruksi bangunan yang tidak sesuai, seperti dibangun tanpa sloof besi dan menggunakan material kayu yang sudah lapuk," ujarnya.

Persoalannya bukan semata-mata warga tidak mengetahui risiko. Banyak dari mereka tidak memiliki pilihan ekonomi untuk menghindarinya. Bahkan ketika bantuan tersedia, warga sering membangun kembali di lokasi semula karena tidak mempunyai tanah lain.

"Dari segi finansial korban, ketika ada anggaran pun terpaksa membangun di tempat semula karena tidak mempunyai tanah kosong di lokasi lain,"

— Milky

Di situlah mitigasi berhadapan dengan kemiskinan. Pengetahuan tentang rumah tahan gempa tidak cukup jika warga tidak mampu membeli material, membayar tukang, atau meninggalkan lahan tempat mereka bekerja.

Wahyu Wahyudin, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi, pernah tiba di lokasi gempa tahun 2000 sekitar satu setengah jam setelah guncangan. Ia melihat warga dalam kepanikan yang nyaris tanpa suara.

"Kita bisa lihat kepanikan dari mereka dengan raut wajah pandangan yang kosong. Hampir semua begitu, dan anak-anak banyak yang menangis," kenang Wahyu.

Gempa yang berulang membuat warga belajar kembali bekerja dan kembali ke rumah. Namun, kemampuan melanjutkan rutinitas tidak selalu berarti trauma telah hilang.

"Kelelahan tentu ada, karena mereka menghadapi kejadian yang berulang. Yang menjadi perhatian, sebagian warga sebenarnya belum terlalu memahami fenomena alam yang sering terjadi di wilayah mereka. Karena sudah sering terjadi, akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang biasa," ungkapnya.

Getaran kecil kemudian dianggap lumrah. Retakan menjadi bagian dari rumah. Bahaya kehilangan bunyi peringatannya.

Keterbatasan juga terasa setelah masa tanggap darurat berlalu. Wahyu mengatakan PMI Kabupaten Sukabumi masih kekurangan kendaraan dan personel untuk bergerak cepat ketika bencana terjadi.

"Kendala yang kami hadapi saat itu salah satunya adalah transportasi. PMI Kabupaten Sukabumi belum memiliki sarana kendaraan yang memadai untuk mobilisasi, sehingga kalau membutuhkan kendaraan kami harus menyewa. Selain itu, jumlah relawan juga masih terbatas," kata Wahyu.

Perhatian publik dan negara, kata dia, sering surut setelah tujuh hari pertama tanggap darurat. Padahal, fase pascabencana membutuhkan biaya dan pendampingan yang panjang. Di Nagrak dan Caringin, pembinaan relawan mulai memperkuat kesiapsiagaan, tetapi edukasi mengenai peta rawan dan standar bangunan tahan gempa baru banyak menjangkau sekolah serta kantor desa.

Ancaman di Sukabumi berkaitan dengan Sesar Cimandiri dan Sesar Citarik. Sejumlah catatan kegempaan di Jawa Barat, termasuk pada 2000, 2006, dan 2007, disebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas Sesar Cimandiri.

Sukabumi menjadi wilayah dengan frekuensi episenter tertinggi: 16 dari 43 episenter yang koordinatnya jatuh di kabupaten/kota Jawa Barat. Angka ini menggabungkan Kabupaten dan Kota Sukabumi; keduanya berada di daratan dan dipisahkan dalam data administratif sebelum digabung untuk kebutuhan grafik.

Sepuluh wilayah dengan episenter terbanyak

n = 43 episenter yang jatuh di kabupaten/kota Jawa Barat; 31 koordinat lain berada di luar provinsi atau lepas pantai (GADM 4.1 + Katalog terbaru, 1821–2025)
Sukabumi (Kabupaten + Kota)
16
Cianjur
4
Bandung
4
Bogor
3
Tasikmalaya
3
Garut
3
Cirebon (Kabupaten + Kota)
2
Ciamis
2
Kuningan
2
Sumedang
2
Cara Baca

Grafik ini menghitung titik episenter yang jatuh di daratan kabupaten/kota Jawa Barat, bukan jumlah wilayah yang merasakan guncangan. Kabupaten dan kota yang memiliki nama sama digabung; koordinat di luar batas Jawa Barat atau lepas pantai dikeluarkan dari peringkat.

Setiap koordinat episenter diuji dengan metode point-in-polygon terhadap batas kabupaten/kota GADM 4.1. Hanya 43 dari 74 koordinat yang jatuh di wilayah administratif Jawa Barat yang dihitung. Kabupaten dan Kota Sukabumi digabung sebagai satu wilayah statistik sehingga menghasilkan 16 episenter di darat. Sebanyak 31 koordinat tidak dimasukkan karena berada di luar Jawa Barat atau lepas pantai; wilayah yang hanya merasakan guncangan tidak dihitung.

Peringkat Wilayah Jumlah Kejadian Tahun Kejadian Utama
Sumber analisis: 74 entri Katalog Gempa terbaru; klasifikasi koordinat menggunakan batas kabupaten/kota GADM 4.1. Sebanyak 43 titik berada di Jawa Barat dan 31 titik dikeluarkan dari tabel karena berada di luar provinsi atau lepas pantai.

Sumber: Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak BMKG 1821–2025; klasifikasi wilayah menggunakan batas kabupaten/kota GADM 4.1.

Kampung hilang, duka tetap dibawa

Gempa Cianjur pada 21 November 2022 merusak 105.000 bangunan dan menewaskan 600 orang. Sekitar 20% rumah yang terdampak mengalami kerusakan berat, bahkan sebagian rata dengan tanah.

Citra satelit kawasan yang sama di Cibulakan pada 2 Agustus 2025, dengan permukiman jauh lebih jarang
Citra satelit permukiman padat di Cibulakan, Cugenang, Cianjur, 14 September 2022
Sebelum · 14 Sep 2022 Sesudah · 2 Agu 2025
‹ ›
Permukiman di Cibulakan, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, yang terdampak gempa pada 2022. Geser garis pembatas untuk membandingkan citra 14 September 2022 (sebelum gempa) dengan 2 Agustus 2025. Gunakan tombol atau ketuk dua kali untuk memperbesar. Sumber: Esri World Imagery Wayback (Maxar, Vantor), diakses melalui www.geowhisperer.org

Sebelum gempa · Rawacina-Cibulakan, Kabupaten Cianjur

Sesudah gempa · Rawacina-Cibulakan, Kabupaten Cianjur

Gempa merusak bukan hal baru bagi Cianjur. Badan Geologi mencatat kejadian serupa sejak 1834. Pada 1 September 2026, gempa bermagnitudo 4,3 akibat aktivitas Sesar Cisokan kembali mengguncang wilayah itu. Banyak gempa di Cianjur berpusat di daratan dan dangkal sehingga dampaknya dapat lebih merusak.

Cianjur juga berada di bawah bayang-bayang aktivitas vulkanik Gunung Gede Pangrango. BPBD Cianjur menyebut lima kecamatan—Cipanas, Pacet, Cugenang, Gekbrong, dan Sukaresmi—berada di kaki gunung dan berpotensi terdampak erupsi maupun gempa vulkanik. Namun, pemerhati gempa dan tsunami Daryono mengingatkan, dugaan siklus 70 tahunan tidak boleh dianggap sebagai jadwal erupsi.

Kartu paradoks · gempa kecil, dampak besar

Kartu asli dari katalog yang menghubungkan magnitudo dangkal dengan kerusakan.

Paradoks Utama

Cianjur, 21 November 2022: dengan kekuatan hanya M 5.6 — jauh di bawah gempa Tasikmalaya 2009 (M7.3) — justru menjadi gempa paling mematikan di Jawa Barat dalam dua dekade terakhir. Penyebabnya bukan kekuatan gempanya, melainkan kombinasi kedalaman sangat dangkal (10 km) tepat di bawah permukiman padat, tanah yang tidak terkonsolidasi, dan bangunan yang tidak tahan gempa. Sesar pemicunya kini dikenal sebagai Sesar Cugenang; status pemetaan sebelum kejadian perlu dibaca sesuai dokumen sumber.

M5.6
Cianjur
21 November 2022 · 10 km · 56.320 rumah rusak
Ketuk untuk lihat di peta →
M5.3
Majalengka
28 Juni 2001 · 30 km · 7.025 rumah rusak
Ketuk untuk lihat di peta →
M5.1
Sukabumi
12 Juli 2000 · 33 km · 5.500 rumah rusak
Ketuk untuk lihat di peta →
M4.9
Kab. Bandung
18 September 2024 · 10 km · 1.007 rumah rusak
Ketuk untuk lihat di peta →
M4.8
Sumedang
31 Desember 2023 · 5 km · 238 rumah rusak
Ketuk untuk lihat di peta →

Sumber: Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak BMKG 1821–2025 serta catatan dampak pada sumber kejadian; ringkasan kartu mengikuti catatan sumber dalam katalog.

"Tetapi istilah siklus 70 tahunan tidak boleh diartikan bahwa Gunung Gede akan segera meletus karena sudah waktunya. Gunung api tidak mempunyai jadwal erupsi yang tetap. Potensi erupsi jangka dekat harus dinilai dari data monitoring aktual, seperti kegempaan vulkanik, deformasi, gas, suhu dan perubahan aktivitas kawah. Jadi kesiapsiagaan BPBD sangat baik, tetapi waktu erupsi tidak dapat ditentukan hanya dari jarak waktu sejak erupsi sebelumnya,"

— Daryono

Rawacina menjadi salah satu kampung yang kehilangan wajah lamanya. Warga direlokasi ke Cilaku dan Babakankaret. Lahan lama tetap menjadi milik mereka, tetapi tidak boleh digunakan untuk mendirikan rumah atau bangunan lain. Sawah dan lahan pertanian masih diperbolehkan.

Papan larangan mendirikan bangunan di kawasan rawan bencana Cianjur
Papan peringatan bertuliskan larangan mendirikan bangunan di kawasan rawan bencana gempa bumi, tanah longsor, dan pergerakan tanah di Kabupaten Cianjur, dengan reruntuhan bangunan warga yang masih tersisa di sekitarnya. Dokumentasi lapangan, 21 November 2023

Wahyu mengatakan pemindahan warga dari zona rawan harus dilakukan dengan pendekatan yang memahami kehidupan mereka.

"Untuk program relokasi atau pemindahan warga ke daerah yang lebih aman, tentu perlu dilakukan dengan pendekatan yang baik. Tidak cukup hanya memindahkan masyarakat, tetapi harus ada komunikasi dan pendekatan kepada warga agar mereka memahami alasan dan manfaat dari relokasi tersebut,"

— Wahyu

Ujang datang untuk memeriksa sawah. Ia tidak lagi memiliki rumah di Rawacina, tetapi masih memiliki alasan untuk kembali. Menurut dia, sebagian warga memilih pindah bukan hanya karena Rawacina berada di zona merah, tetapi juga karena ingatan tentang keluarga yang meninggal dalam gempa.

Kisah serupa tampak di Kampung Cijedil, Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang. Puluhan orang tewas dan empat orang masih belum ditemukan setelah longsor yang dipicu gempa. Rumah-rumah di tebing ditinggalkan; sebagian lokasi kini digantikan bronjong sebagai penahan tanah.

Saat ruang kelas berubah menjadi tempat berlindung

Kisah tentang rumah dan kampung yang rusak berulang di ruang kelas SDN Cihalimun 2, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.

SDN Cihalimun 2, Kabupaten Bandung
SDN Cihalimun 2, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung — sekolah yang ruang kelasnya berguncang saat gempa bermagnitudo 4,9 mengguncang pada 18 September 2024. Foto: Yuga Hassani

Rabu pagi, 18 September 2024, para siswa sedang mengerjakan Ujian Akhir Sekolah. Pukul 09.41 WIB, gempa bermagnitudo 4,9 berpusat pada kedalaman 10 kilometer. Menurut BMKG, guncangan itu tergolong gempa foreshock, didahului 12 kali gempa kecil yang lebih dulu tercatat sensor.

Lembar ujian belum selesai. Papan tulis bergetar. Genteng jatuh. Atap kayu mengeluarkan suara gemuruh. Sebagian siswa berlindung di bawah meja, sementara yang lain berusaha mencapai lapangan di antara ruang kelas.

Nazwa Nur Afida, kini 13 tahun, berada di dekat pintu. Saat gempa terjadi, ia masih kelas empat dan baru menyelesaikan ujiannya.

"Saya lagi di kelas. Saya mah pas kejadian lagi di dekat pintu. Secara tiba-tiba langsung ngabeureugbeug we. Jadi lagi UAS, saya mah udah beres UAS-nya. Jadi di deket pintu," kata Nazwa.

Guncangan membuat para siswa kesulitan bergerak. Enam siswa kelas enam terluka di bagian kepala setelah tertimpa material bangunan.

"Saya pas kejadian mau lari aja susah, gemeter, takut, panik lah. Jadi tanahnya ajrug-ajrugan lah. Semua ada di dalam kelas. Ada beberapa siswa kelas 6 yang ketimpa juga. Ada lah enam orang mah. Luka di kepala,"

— Nazwa

Setelah guncangan berhenti, siswa dikumpulkan di lapangan. Nazwa tidak memikirkan ujian yang terhenti. Ia hanya mengingat orang tuanya.

"Pas disuruh keluar ke lapangan, saya langsung inget orang tua. Jadi pas kejadian kaget banget lah. Kami langsung dijemput buat pulang," jelasnya.

Dua tahun berlalu, tetapi ketakutan itu belum selesai. Getaran kecil masih dapat mengembalikan Nazwa ke ruang kelas yang bergerak.

"Sampai sekarang trauma pisan lah kalau ada gempa bumi. Soalnya takut kejadian gempa bumi kaya dulu lagi," kata Nazwa.

Rumi Khoirunnissa, 12 tahun, memilih berlindung di bawah meja karena ujiannya belum selesai ketika gempa datang.

"Karena saya mah masih belum beres UAS-nya. Jadi pas kejadian saya lagi duduk, langsung ngumpet aja di dalam meja," kata Rumi.

Gempa September 2024 merusak 31 fasilitas pendidikan, 55 tempat ibadah, dan 1.007 rumah warga di Kabupaten Bandung. Sebanyak 81 orang terluka, 23 di antaranya mengalami luka berat, dan 450 orang mengungsi.

Perbaikan dilakukan, tetapi rasa aman tidak otomatis kembali. Hikmat Budi Rajab Akbar, guru kelas lima SDN Cihalimun 2, mengatakan sebagian bangunan kembali rusak sebelum setahun berlalu.

"Jadi posisinya sekarang aja ini belum setahun udah pada rusak lagi. Kemarin bantuan pascagempa bantuan dari Pemda ya, kurang bagus lah intinya ya. Bangunan di belakang enggak dibenerin, terus boleh dilihat di sana kemarin juga ada gempa sedikit langsung jatuh si plafonnya,"

— Hikmat

Sekolah itu berada di antara perkampungan dan perbukitan. Menurut Hikmat, tanah di sekitarnya labil dan sebagian area dahulu merupakan lahan sayuran yang diuruk. Warga juga menyebut kontur bukit di depan sekolah menyerupai patahan.

Hikmat meminta edukasi tidak berhenti pada cara menyelamatkan diri setelah gempa. Warga perlu memahami risiko sebelum mendirikan bangunan.

"Intinya mah edukasi tuh pengetahuan masyarakat karena kan masyarakat tuh kalau tahu misalkan di sini ada patahan, ngebangun juga mungkin ada-ada agak-agak hati-hatilah ya. Dari mulai konstruksinya gimana, itu kan enggak ada, ini kan sekarang ngebangun pada biasa aja normal ngebangun biasa," kata Hikmat.

BPBD Kabupaten Bandung menyatakan sosialisasi dan mitigasi juga dilakukan di Kertasari dan Pangalengan bersama BMKG serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Papan informasi jalur evakuasi dipasang di sejumlah titik, disusul rencana sosialisasi dan simulasi bagi warga serta siswa.

"Iya sebagian sudah dipasang dan nanti akan sekalian nanti sosialisasi akan dipasang kembali ditambah untuk jalur-jalur evakuasi. Makanya nanti sosialisasi dan simulasi di lapangan dengan warga masyarakat," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung Beny Sonjaya.

Peta sesar Jawa Barat: dari yang bernama hingga yang belum terpetakan

Gempa bumi tidak selalu diawali guncangan besar. Dalam sejumlah kasus, gempa utama justru didahului rentetan gempa kecil yang lebih dulu tercatat sensor sebelum guncangan yang lebih besar datang.

detikJabar berbincang dengan Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suadi Ahadi, melalui Ketua Tim Operasional Geofisika Rafdi Ahadi Triputra, soal karakteristik kegempaan di Jawa Barat dan sesar aktif yang menjadi sumbernya. Menurut Rafdi, aktivitas kegempaan umumnya dibedakan menjadi tiga pola: mainshock yang diikuti aftershock, yakni gempa berkekuatan besar yang diiringi gempa susulan; foreshock, ketika serangkaian gempa yang lebih kecil muncul lebih dulu sebelum guncangan utama; dan gempa swarm, rentetan gempa tanpa satu guncangan yang benar-benar mendominasi.

Rafdi mencontohkan gempa bermagnitudo 4,9 yang mengguncang Kertasari, Kabupaten Bandung, pada 2024. Guncangan itu diklasifikasikan sebagai foreshock, sebab 12 kali gempa kecil tercatat lebih dulu di wilayah tersebut sebelum gempa utama datang.

"Itu juga biasanya banyak di daerah sesar aktif ya di Jawa Barat. Sebelum gempa utama, itu ada gempa pendahuluan, gempa kecil-kecil. Seperti di Kertasari juga ada 12 kali gempa sebelum gempa utama, itu yang tercatat di sensor. Setelah itu gempa mainshock-nya," kata Rafdi, Selasa (29/9/2026).

Patahan aktif Jawa Barat dalam data Badan Geologi

Lima gambar dari paparan Badan Geologi: riwayat kegempaan tiap patahan, sebaran patahan, hingga perbandingan megathrust dan patahan aktif. Geser kiri-kanan; ketuk atau cubit untuk memperbesar.

Tabel: patahan aktif dan riwayat kegempaan di sejumlah kabupaten/kota Jawa Barat
1/5 — Tabel: patahan aktif dan riwayat kegempaan di sejumlah kabupaten/kota Jawa Barat.
Skema megathrust vs patahan aktif (Megathrust vs Patahan Aktif)
2/5 — Skema megathrust vs patahan aktif (Megathrust vs Patahan Aktif).
Peta patahan utama dan sejarah gempa bumi merusak di Jawa Barat
3/5 — Peta patahan utama dan sejarah gempa bumi merusak di Jawa Barat.
Pemetaan patahan aktif per kabupaten/kota di Jawa Barat (2024, 2025, 2026)
4/5 — Pemetaan patahan aktif per kabupaten/kota di Jawa Barat (2024, 2025, 2026).
Peta sebaran patahan aktif utama dan patahan aktif lainnya di Jawa Barat
5/5 — Peta sebaran patahan aktif utama dan patahan aktif lainnya di Jawa Barat.
1/5

Sumber: Badan Geologi, Kementerian ESDM.

Dua peta, satu alur sesar

Peta regional menunjukkan sebaran sesar di Jawa Bagian Barat; peta lembar Bandung memperbesar detail satuan batuan di sekitar Sesar Lembang. Geser ke kanan untuk membandingkan keduanya.

Peta Geologi Lembar Jawa Bagian Barat
Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa

Sumber: Badan Geologi, peta geologi regional dan lembar Bandung.

Belakangan, Kabupaten Bandung sempat diguncang beberapa kali kejadian kegempaan yang membuat BMKG mengkhawatirkan potensi gempa susulan yang lebih besar, seperti pernah terjadi sebelumnya. Namun, hasil pemantauan menunjukkan pola itu tergolong gempa swarm, tanpa diikuti guncangan besar yang berpotensi merusak.

"Jadi sampai saat ini memang tidak tercatat lagi adanya gempa, adanya aktivitas seismik di daerah Kabupaten Bandung. Semoga ya, kita berharap tidak adanya gempa utama, gempa utama yang bisa berpotensi mengakibatkan kerusakan di daerah Kabupaten Bandung," ujar Rafdi.

Selain memantau pola kegempaan, Rafdi juga membeberkan sejumlah patahan aktif atau sesar di Jawa Barat. Sesar Lembang menjadi yang paling banyak disorot, tetapi menurutnya terdapat 28 sesar lain yang juga perlu dimitigasi risikonya.

Ke-29 patahan itu meliputi Sesar Cimandiri dengan segmen Citatah, Cisokan, Cimandiri, dan Nyalindung–Cibeber; Sesar Lembang; Sesar Cileunyi–Tanjungsari; serta Sesar Cicalengka. Kemudian Sesar Cianjur segmen 1 dan 2, Sesar Cipamingkis, Sesar Garsela segmen Kendang dan Kencana, Sesar Tampomas, Sesar Karangmanggu, dan Sesar Ciremai.

BMKG turut mencatat sesar yang membentang dari Depok hingga Kuningan bernama Java Back-arc Thrust, dengan segmen Depok, Rarata, Salat, Citarum, Cariu, Klapanunggal, Cirata, Tangkuban Parahu, Cipunegara, Tampomas, Baribis, Ciremai, hingga Cisanggarung.

Dari rentetan gempa di Kabupaten Bandung, BMKG belum bisa memastikan apakah aktivitas itu berasal dari sesar yang sudah dipetakan. Sebab, menurut Rafdi, patahan di wilayah tersebut belum sepenuhnya terpetakan.

"Karena menurut Pusgen (Pusat Studi Gempa Nasional) 2024, yang ada itu Garsela di segmen Kendang dan Kencana. Kalau di atasnya dari Kabupaten Bandung itu ada namanya segmen Cicalengka," ucap Rafdi.

"Nah, jadi menarik ini sebenarnya. Apakah ini adanya patahan aktif di daerah Kabupaten Bandung atau memang aktivitas seismiknya. Intinya kita belum bisa menjawab lah ya, sampai saat ini belum bisa menjawab apakah ada aktivitas patahan aktif. Karena menurut Pusgen belum terpetakan patahan tersebut," beber Ketua Tim Operasional Geofisika Rafdi.

Sepanjang 11 Agustus hingga 17 September 2026, BMKG mencatat 118 kejadian gempa bumi di Kabupaten Bandung. Gempa juga terjadi di Sukabumi, Garut, Pangandaran, dan Tasikmalaya. Apakah rentetan itu berasal dari aktivitas sesar aktif?

Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Edy Slameto menyebut ada sejumlah sesar utama di Jawa Barat yang memiliki sejarah gempa bumi merusak. Menurut dia, sesar-sesar itu bisa aktif kembali karena sesar aktif akan bergerak dan merusak ketika terpicu, apalagi letaknya di darat dan relatif dangkal.

Edy Slameto, Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Edy Slameto. (Foto: Wisma Putra).

"Selain Sesar Lembang, ada Sesar Baribis di utaranya ya. Kemudian ada Sesar Tomo, Sesar Cimandiri itu juga tidak kalah terkenalnya gitu ya di Sukabumi itu sering terjadi aktif kembali reaktivasi karena namanya sesar aktif itu kan kalau dipicu menimbulkan pergerakan yang mengakibatkan kerusakan tadi. Karena ini di darat kan di darat kemudian relatif dangkal. Nah kalau magnitudonya besar apalagi makin besar makin merusak gitu ya. Nah kalau yang terkenal patahannya yang ada di Jawa Barat sesarnya Cimandiri, kemudian Sesar Baribis, Sesar Tomo, Sesar Bumi Ayu. Kalau yang di Garut kan ada juga Garsela," kata Edy kepada detikJabar belum lama ini.

Secara regional, sesar aktif lain di Jawa Barat meliputi Rajamandala, Kertasari, Kertasari–Pangalengan, Cugenang, Citarik, dan Cisadane.

Edy juga menyebut Jawa Barat sebagai wilayah yang paling rentan terhadap gempa bumi dibandingkan wilayah lain. Ia membandingkannya dengan Jawa Tengah, yang menurut dia jauh lebih jarang sesarnya. Penyebabnya, struktur geologi Jawa Barat dipengaruhi banyak faktor, termasuk zona subduksi di selatan yang terus aktif dan batuan vulkanik yang belum terlalu terkonsolidasi.

"Dibandingkan Jawa Tengah itu ya tentu Jawa Barat jauh lebih (rentan) jauh lebih padat populasi sesarnya. Nah Jawa Barat sendiri kenapa banyak karena Jawa Barat ini kan memang secara struktur geologi dipengaruhi oleh banyak aspek. Secara tektonik kita ini di selatan kita kan ada zona subduksi ya dan itu secara tektonik kan aktif terus gitu ya. Dan itu hampir semua di Jawa lah, sepanjang Pulau Jawa, Sumatera itu kan zona subduksi, jadi kita relatif aktif. Kemudian juga secara geologi batuan di Jawa Barat ini umumnya batuan vulkanik yang relatively tidak terlalu terkonsolidasi sehingga kalau misalnya diberikan tekanan akan lebih mudah patah. Jadi perbandingannya secara relatif ya Jawa Barat lebih ramai lah," ungkapnya.

Soal rentetan gempa di Kabupaten Bandung, Edy menjelaskan pemicunya bisa bermacam-macam. Patahan atau sesar aktif bergerak ketika ada gaya yang menekannya, baik dari aktivitas tektonik maupun gempa vulkanik.

"Yang saya sebutkan gaya tadi bisa gayanya dari aktivitas tektonik, bisa juga dari gempa vulkanik, kan macam-macam. Itu akan membuat suatu patahan itu bergerak atau bergeser. Pergerakannya bisa vertikal, bisa horizontal atau oblique (gabungan keduanya) gitu ya. Tapi yang pasti dia butuh gaya yang memicu dia untuk aktif. Nah kenapa di Jawa Barat banyak ya karena kita punya banyak gunung api, kita Gunung Api aja ada berapa kita? Ada Tangkuban Perahu, aktif semua kan itu kan? Ciremai, terus Gede Pangrango ya, Salak itu kan aktif semua. Jadi kalau mereka sedang batuk-batuk, aktivitas seismisitasnya tinggi itu kan menimbulkan gempa-gempa kecil yang kadang-kadang nggak kita rasa tetapi itu bisa mengaktivasi zona rekahan-rekahan tadi sehingga dia menjadi bergerak kan," jelasnya.

Dalam catatan sejarah, gempa bumi kuno pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 pernah terjadi di lima wilayah Jawa Barat, yakni Cianjur, Bogor, Sukabumi, Cirebon, dan Garut. Menurut Edy, titik geografis gempa itu tidak berganti hingga era modern. Gempa terjadi di titik yang sama.

"Jadi yang namanya sesar, itu ya posisinya akan ada di situ terus dan itu tidak bisa kita hilangkan, tidak bisa kita modifikasi, tidak bisa kita manipulasi. Dan itu terbukti dari rekaman sejarah kegempaan," terang Edy.

Sesar Lembang: antara trauma dan kejenuhan

Deretan bukit dari kawasan Lembang hingga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, membentuk lanskap yang indah sekaligus menyimpan ancaman. Rumah-rumah yang tumbuh rapat di lereng terjal menghadapi risiko kerusakan besar ketika guncangan datang. Bentang perbukitan dari Batu Loceng hingga Padalarang itu tersambung dalam jalur Sesar Lembang yang membelah Bandung Utara sepanjang sekitar 29 kilometer.

Sejumlah kajian memperkirakan pergerakan sesar ini dapat memicu gempa hingga magnitudo 6,9. Risikonya tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa, tetapi juga oleh topografi, kepadatan permukiman, mutu bangunan, dan banyaknya warga yang sulit mengevakuasi diri. Kabupaten Bandung Barat menanggung kelompok rentan terbesar di kawasan Bandung Raya: sekitar 701.607 anak-anak dan lansia berada dalam bayang-bayang ancaman tersebut.

Warga berjalan menuju jalur trekking ke puncak Gunung Batu Lembang
Warga berjalan menuju jalur trekking ke puncak Gunung Batu Lembang — jalur pendakian yang membentang tepat di atas garis Sesar Lembang. Foto: Whisnu Pradana
Gunung Batu ini merupakan zona Sesar Lembang
Gunung Batu, salah satu tebing yang menjadi penanda alami di sepanjang zona Sesar Lembang, membelah Bandung Utara sejauh sekitar 29 kilometer. Foto: Whisnu Pradana

Dalam rencana kontingensi BPBD Kabupaten Bandung Barat 2026, seluruh kecamatan diperkirakan dapat terdampak, dengan jumlah penduduk terpapar mencapai 1.768.353 jiwa. Kecamatan Lembang menjadi wilayah dengan perkiraan penduduk terdampak terbesar, yakni 211.159 jiwa. Skenario itu juga memperkirakan 1.237.847 orang mengungsi, sementara 8.843 orang mungkin tidak dapat dievakuasi dan sekitar 36 orang berpotensi meninggal karena tertahan di lokasi bencana.

Dampak terhadap bangunan diperkirakan mencakup 661.207 unit rumah, selain 1.178 fasilitas pendidikan, 137 fasilitas kesehatan, dan 1.089 tempat ibadah. Kerusakan infrastruktur dan terhentinya kegiatan ekonomi dapat menimbulkan kerugian maksimal sekitar Rp5,699 triliun. Angka-angka ini merupakan skenario perencanaan, bukan kepastian bahwa seluruh dampak akan terjadi dalam satu gempa.

Karena tergolong sesar yang masih aktif bergerak, Sesar Lembang layak mendapat perhatian lebih, baik dari warga maupun pemerintah.

"Sesar Lembang perlu diberikan perhatian lebih karena itu adalah sesar yang aktif," kata Prof. Dr. Irwan Meilano, Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) sekaligus ahli gempa ITB, saat dikonfirmasi, Minggu (27/9/2026).

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB itu juga menyoroti, besar kecilnya guncangan Sesar Lembang sangat bergantung pada jarak dan kondisi wilayah.

"Semakin jauh dari garis sesarnya, guncangan akan semakin kecil. Tapi berbeda kalau di Kota Bandung, kemungkinan ada amplifikasi atau penguatan guncangan gempa akibat kondisi lokal dan batuan, dan semakin selatan semakin kecil lagi," kata Irwan.

Di kalangan peneliti sendiri, perkiraan kekuatan maksimum guncangan Sesar Lembang masih beragam dan belum tuntas dikaji.

"Saya pernah menulis paper (jurnal ilmiah) dan menyimpulkan potensinya di atas 6. Kemudian peneliti yang lain ada yang mendukung ada yang berbeda, jadi itu sebenarnya di kalangan periset pun belum tuntas," ujar Irwan.

Kabar baiknya, dibandingkan sumber gempa lain di Indonesia, terutama di kawasan timur, Sesar Lembang justru memiliki data morfologi dan hasil penggalian parit (trenching) yang relatif lengkap.

"Kemudian adanya data kontinuitas GPS untuk melihat pergerakan dari sesarnya sendiri, jadi kita perlu melihat pergerakan sesarnya sendiri. Kesimpulan yang diberikan bisa jadi tidak bisa menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi dan menjadi miss informasi," ujar Irwan.

"Informasi lain yang dihasilkan dari berbagai riset yang sudah dilaksanakan yakni kekuatan guncangan gempa. Kalau di Kota Bandung kita sudah harapkan bisa sampai 0,3 g atau bahasa kami itu 0,3 percepatan gravitasi dan itu sudah menjadi dasar peta gempa indonesia yang dibuat pusat studi gempa nasional dan publikasi resmi yang kemudian diakui banyak instansi karena yang membuatnya itu bersama termasuk kami dari ITB bekerjasama dengan BMKG, Badan Geologi dan BRIN," kata Irwan.

Karena kawasan Bandung Raya sudah telanjur padat penduduk, Irwan mengingatkan pentingnya mengevaluasi dan menerapkan standar rumah tahan gempa guna menekan risiko korban jiwa dan kerusakan berat.

"Masyarakat dan pemerintah harus memiliki pemahaman mendasar hingga tingkat lanjut tentang apa yang harus dilakukan apabila bencana terjadi," ujar Irwan.

Sesar Lembang dalam paparan BMKG

Lima slide paparan BMKG Stasiun Geofisika Bandung: jejak sesar di citra satelit, profil sesar, hingga skenario peta guncangan dan skala intensitas. Geser kiri-kanan; ketuk atau cubit untuk memperbesar.

Sesar Lembang di citra satelit Google Earth dan citra Landsat
1/5 — Sesar Lembang di citra satelit Google Earth dan citra Landsat.
Profil Sesar Lembang: panjang 29 km, enam segmen, dan siklus gempa bumi 170–670 tahun
2/5 — Profil Sesar Lembang: panjang 29 km, enam segmen, dan siklus gempa bumi 170–670 tahun.
Tiga skenario peta guncangan Sesar Lembang: M7 kedalaman 30 km, M7 kedalaman 10 km, dan M6,8 kedalaman 10 km
3/5 — Tiga skenario peta guncangan Sesar Lembang: M7 kedalaman 30 km, M7 kedalaman 10 km, dan M6,8 kedalaman 10 km.
Skenario peta guncangan (shakemap) gempa bumi akibat Sesar Lembang M7 kedalaman 30 km
4/5 — Skenario peta guncangan (shakemap) gempa bumi akibat Sesar Lembang M7 kedalaman 30 km.
Skala intensitas gempa bumi (MMI) kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, skenario Sesar Lembang M7,0 kedalaman 30 km
5/5 — Skala intensitas gempa bumi (MMI) kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, skenario Sesar Lembang M7,0 kedalaman 30 km.
1/5

Sumber: BMKG Stasiun Geofisika Bandung. Slide 2 merujuk Daryono dkk. (2016, 2019); citra pada slide 1: Awang Satyana.

Selain kajian akademis, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memantau langsung pergerakan Sesar Lembang. Ketua Tim Operasional Geofisika Rafdi Ahadi Triputra menyebut lembaganya memasang delapan sensor seismik untuk mendeteksi getaran sekecil apa pun di sepanjang jalur sesar.

"Jadi kita melakukan monitoring di daerah Sesar Lembang dengan memasang delapan sensor seismic Raspberry, untuk memantau pergerakan Sesar Lembang. Jadi, gempa-gempa kecil yang ada di Sesar Lembang kita memang mencatat ya. Tapi yang sudah lama itu daerah Desa Sutenjaya segmen Cimeta," tutur Rafdi Triputra.

Menurut Rafdi, guncangan di Sesar Lembang tetap tercatat meski kekuatannya kecil. Aktivitas terakhir tercatat pada awal 2026 dengan magnitudo sekitar dua koma sekian.

"Jadi sekecil apa pun pergerakannya dari sensor Raspberry ini akan tercatat seperti itu. Tahun 2025 itu termasuk sering juga, cuman memang tidak sesering gempa-gempa sesar aktif yang lainnya," kata Rafdi.

Rafdi mengimbau warga mulai membiasakan mitigasi bencana sedini mungkin, bukan untuk menakut-nakuti melainkan sebagai edukasi menghadapi potensi gempa besar. Ia mengingatkan pentingnya mendapatkan informasi resmi dari sumber terpercaya seperti BMKG dan BPBD, serta mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul yang aman di rumah masing-masing.

"Kemudian persiapan, kita harus mengetahui jalur evakuasi minimal yang ada di rumah kita. Seperti apa lokasi, tempat kita, titik berkumpulnya harus jauh dari lokasi gedung tinggi, lokasi bangunan yang mudah ambruk dan lokasi yang jauh dari lereng," ujar Rafdi.

Ia menambahkan, wilayah Kabupaten Bandung yang berbukit membuat guncangan berpotensi memicu longsor, sehingga warga diimbau menjauh dari tebing curam saat gempa terjadi.

"Ini yang paling penting ya. Jadi daerah Kabupaten Bandung itu banyak lereng ya, banyak lereng. Nah, yang kami takutkan itu ketika gempa bumi utama terjadi, atau adanya gempa mainshock itu mengakibatkan longsoran. Jadi hindarilah ketika ada gempa itu ada di lereng-lereng dan di tebing-tebing yang curam. Jadi dimohon untuk mengetahui lokasi-lokasi titik kumpul yang aman dan jauh dari bangunan tinggi," tutur Rafdi.

Rafdi juga mengingatkan pentingnya menyiapkan tas siaga bencana berisi obat-obatan, alat penerangan, dan makanan ringan yang mudah dikonsumsi.

"Itu juga salah satu kunci melanjutkan kehidupan. Ketika penyelamatan belum datang, belum tiba, kita bisa menggunakan tas itu sebagai kehidupan selanjutnya kita untuk di lokasi-lokasi yang terjadi bencana," ucap Rafdi Triputra.

Di Bandung Barat, warga Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, tidak perlu membayangkan seperti apa dampak Sesar Lembang. Mereka pernah mengalaminya.

Pada 28 Agustus 2011, sekitar pukul 15.00 WIB, Segmen Cimeta Sesar Lembang bergerak. Gempa bermagnitudo 3,3 mengguncang kampung yang rumah-rumahnya bertumpuk di lereng terjal. Sebanyak 103 rumah rusak.

Ade, bapak satu anak yang bekerja sebagai kuli bangunan, sedang mengerjakan proyek di kampung sebelah ketika mendapat telepon dari anak dan istrinya. Rumah mereka ambruk. Beruntung, keduanya sedang berada di luar.

"Untungnya waktu itu anak istri lagi di luar, cuma kan rumahnya rusak. Ya sekarang ramai isu itu lagi pastinya ada kekhawatiran. Tapi mau gimana lagi,"

— Ade

Ratusan kepala keluarga tinggal di pengungsian hampir dua bulan. Ade dan keluarganya melewati Lebaran di pengungsian, lalu tinggal sekitar lima bulan di rumah bambu di samping rumah yang rusak.

"Jadi waktu itu ya lebarannya di pengungsian, tinggal lumayan lama cuma saya lupa. Soalnya trauma kan warga juga pas ke rumah, setelah gempa itu ya ada beberapa kali gempa kecil," kata Ade.

Rumah Ade kemudian diperbaiki dengan fondasi cakar ayam dan ram kawat pada dinding. Kini rumah itu menjadi salah satu rumah tahan gempa di Kampung Muril.

Warga berjalan di Kampung Muril yang pernah didera gempa akibat Sesar Lembang pada 2011
Warga berjalan di Kampung Muril yang pernah didera gempa akibat Sesar Lembang pada 2011. Foto: Whisnu Pradana

Trauma itu tidak hilang sepenuhnya. Yetti, warga Kampung Muril sekaligus saksi hidup gempa 2011, adalah Ketua RT setempat dan anggota Desa Tangguh Bencana (Destana) Jambudipa. Ia mengatakan ketakutan kembali muncul ketika pembicaraan tentang Sesar Lembang ramai.

"Kalau untuk masyarakat di sini mungkin masih ada trauma, ada ketakutan lagi pas ramai dibicarakan lagi. Kelihatannya memang biasa-biasa saja, mungkin karena sudah pernah mengalami jadi pembelajaran," ujar Yetti.

Pada pertengahan 2025, beberapa gempa kecil kembali mengguncang Bandung Raya. Warga merasakan karakter guncangan yang berbeda dari gempa biasa—bukan mengayun ke samping, melainkan seperti hentakan dari bawah.

"Kalau gempa kecil enggak kerasa, beda dengan tahun 2025. Biasanya kan gempa itu goyang ke samping, tapi kalau di sini, si tanah itu kayak ke bawah, seperti anjlok tanahnya,"

— Yetti

Sebagai anggota Destana, Yetti kini menjadi koordinator penanggulangan bencana gempa Sesar Lembang di kampungnya. Marka jalur evakuasi telah dipasang di sejumlah sudut kampung.

"Minimal kita sudah paham untuk memitigasi diri sendiri agar tak jadi korban saat bencana terjadi. Harus lari ke mana, titik kumpul di mana, tidak panik," ungkap Yetti.

Ia tetap meminta sosialisasi diperkuat, tetapi dengan tujuan membangun kewaspadaan, bukan ketakutan.

"Sudah ada penanda jalur evakuasi, alhamdulillah. Dari mahasiswa juga yang datang ke sini untuk sosialisasi tentang kebencanaan lumayan banyak. Cuma mungkin kita ingin ditingkatkan lagi ya mitigasi ke warganya, supaya bukan takut tapi waspada," kata Yetti.

Gunawan, warga Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, merasakan kegelisahan yang sama. Ia menilai sosialisasi tentang potensi gempa Sesar Lembang masih jarang.

"Jarang ada sosialisasi terkait potensi gempa Sesar Lembang, yang ditakutkan tiba-tiba terjadi gempa di atas 3 magnitudo, mudah-mudahan enggak sampai terjadi," ucap Gunawan.

Namun, terlalu sering mendengar kabar tentang ancaman juga membuat sebagian warga lelah. Mereka tetap harus bekerja, bersekolah, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

"Ya kalau dibilang capek, jelas capek. Banyak berita soal Sesar Lembang malah bikin warga Lembang resah, stres, takut. Bagaimanapun kita yang tinggal di Lembang kan harus terus beraktivitas setiap hari, bekerja, sekolah," kata Gunawan.

Di sekolah, edukasi menjadi cara untuk mengubah ketakutan menjadi kesiapan. Murid SD Negeri 1 Jayagiri belajar melindungi kepala dengan tas, bergerak menuju tempat aman, dan membantu teman yang terluka dalam simulasi gempa.

"Jadi edukasi seperti ini sangat penting, apalagi Lembang kan dikelilingi potensi bencana. Seperti sekarang, disimulasikan menyelamatkan diri saat gempa bumi," kata guru SDN 1 Jayagiri, Mulyati.

Relawan Desa Tangguh Bencana Jayagiri, Iwan Maulana, mengatakan anak-anak dan lansia perlu menjadi sasaran utama edukasi.

"Biasanya kalau sudah gempa, anak-anak teriak-teriak dan tidak tahu harus berbuat apa. Mudah-mudahan dari edukasi ini bisa memberikan nilai positif dan menambah pengetahuan masyarakat," ucap Iwan.

Shoffa Asykari, warga Desa Jambudipa yang memiliki dua anak, meminta edukasi di sekolah dibuat lebih praktis. Menurut dia, siswa sekolah dasar lebih mudah memahami simulasi daripada ceramah.

"Ya betul harus diprioritaskan edukasi ke sekolah terutama anak SD. Anak SD itu kan harus simulasi, mereka lebih senang praktik daripada mendengarkan ceramah. Beda kan inisiatif anak SD dengan anak SMP atau SMA," kata Shoffa.

Ia juga mengusulkan penggunaan film dokumenter atau kartun agar pesan kebencanaan lebih mudah diterima anak-anak.

"Bagus juga kan dari sisi visualnya, orang mungkin lebih senang melihat video apalagi anak-anak senang kalau bentuknya kartun. Menurut saya akan lebih efektif," kata Shoffa.

Gempa kecil, bangunan rapuh, kerugian besar

Di Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, warga hidup di atas ancaman Sesar Garsela. Putra, warga kelahiran 2001, masih mengingat gempa bermagnitudo 4,2 pada 7 Desember 2024.

Lanskap Pasirwangi, Garut
Lanskap Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut — kawasan pertanian di ketinggian yang hidup di atas ancaman Sesar Garsela. Foto: Hakim Ghani

Ia semula mengira pusat gempa berada di laut. Setelah memeriksa informasi BMKG melalui X, ia mengetahui pusat guncangan berada di daratan pada kedalaman 5 kilometer.

"Awalnya saya pikir itu gempa bumi dari laut, seperti biasanya. Tapi ternyata setelah lihat informasinya kaget juga," kata Putra.

Gempa itu bukan yang pertama dirasakan Putra. Sebelumnya, gempa bermagnitudo 4,3 terjadi pada 1 Februari 2023 dan gempa bermagnitudo 5,0 pada 18 September 2024. Nama Sesar Garsela kemudian semakin sering disebut di tengah warga.

Ketika gempa kecil menimbulkan kerusakan besar

Kelima gempa ini semuanya bermagnitudo di bawah 6,0 — tetapi meluluhlantakkan ratusan hingga ribuan rumah karena sumbernya sangat dangkal dan tepat di bawah permukiman.

Dangkal (≤15 km) Menengah (15–60 km) Dalam (>60 km) Ukuran lingkaran = korban jiwa + luka-luka
Perbesar grafik
Pilih salah satu titik gempa untuk melihat rinciannya di sini.
Batas Data

Grafik ini hanya memuat 61 kejadian dengan magnitudo numerik. Tiga belas kejadian lebih tua tetap dihitung dalam total 74 kejadian, tetapi tidak dibandingkan pada sumbu magnitudo karena sumbernya hanya mencatat intensitas MMI.

Sumber: Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak BMKG 1821–2025. Grafik hanya memuat kejadian dengan magnitudo numerik.

Pasirwangi berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut dan dihuni lebih dari 67.975 orang. Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan buruh tani. Rumah-rumah mereka dibangun secara swadaya, sebagian tanpa kolom beton bertulang karena biaya konstruksi yang lebih aman sulit dijangkau.

Mang Iya, 58 tahun, petani asal Desa Barusari, tidak memahami seluruh penjelasan tentang sesar. Namun, ia memahami kecemasan yang muncul setelah melihat kerusakan akibat guncangan kecil.

"Saya tidak paham. Tapi intinya, kalau kekuatan yang kecil saja bisa merusak, gimana jadinya kalau kekuatan yang besar datang,"

— Mang Iya

Gempa bermagnitudo 4,3 pada 2023 menyebabkan 367 rumah rusak ringan, 111 rumah rusak sedang, dan 17 rumah rusak berat di wilayah Garut serta berdampak pada delapan fasilitas pendidikan. Pada gempa bermagnitudo 4,2 pada Desember 2024, 110 rumah rusak sangat ringan, 31 rumah rusak ringan, dan sembilan rumah rusak sedang.

Di Cianjur, kerusakan besar pada 2022 juga dipengaruhi struktur rumah yang rapuh. Kepala Bidang Rehabilitasi dan Konstruksi BPBD Cianjur Nurzen mengatakan sekitar 20.000 rumah rusak berat, sebagian rata dengan tanah, karena banyak bangunan hanya disusun dari bata tanpa fondasi dan tulangan besi.

"Penyebab utama banyaknya bangunan rusak karena struktur bangunannya rapuh. Tidak tahan gempa. Bahkan tidak sedikit yang tidak pakai tulangan besi. Sehingga begitu terjadi guncangan langsung ambruk," kata Nurzen.

Sebagai pembanding, gempa Sesar Cisokan bermagnitudo 4,3 pada awal September 2026, dengan kedalaman 5 kilometer, hanya merusak empat rumah. Menurut Nurzen, bangunan di sekitar pusat gempa itu cenderung lebih kokoh.

Angka itu menjelaskan mengapa rumah tahan gempa tidak mudah diwujudkan. Pengetahuan dapat dibagikan, tetapi fondasi, tulangan besi, dan tenaga ahli membutuhkan biaya.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun melihat persoalan itu dari pola pembangunan rumah warga. Sebagian rumah bertingkat dibangun tanpa perhitungan struktur yang memadai, sementara perhatian terhadap perizinan bangunan masih rendah. Menurut Teten, mitigasi struktural kerap baru dibicarakan setelah bencana terjadi, bukan sejak rumah dirancang.

"Dan di kita kesadaran terhadap Izin Mendirikan Bangunan, sok rata-rata di Jawa Barat berapa sih yang memiliki IMB yang betul-betul kecuali perumahan-perumahan ya. Mitigasi struktural itu yang kadang-kadang sama masyarakat kita tuh diabaikan," tutur Teten.

Teten mengingatkan, Jawa Barat sebenarnya memiliki pengetahuan lokal tentang cara menyesuaikan bangunan dengan lingkungan. Rumah panggung, kata dia, bukan sekadar bentuk arsitektur, melainkan bagian dari pengalaman masyarakat yang sejak dulu memahami wilayahnya rawan gempa.

"Bahwa dulu masyarakat Jawa Barat punya histori, kenapa Pajajaran tidak memiliki situs, karena pola pikir orang tua dulu paham bahwa di Jawa Barat daerah rawan terutama gempa, maka rumahnya rata-rata rumah panggung," ujar Teten.

Pilihan konstruksi masa kini juga dipengaruhi keinginan memperoleh rumah yang dianggap lebih nyaman, sementara material dan pengerjaan bangunan tahan gempa membutuhkan biaya. Karena itu, izin bangunan tidak cukup dipahami sebagai administrasi. Di dalamnya perlu ada gambar konstruksi dan pemeriksaan lokasi, termasuk apakah bangunan berada di zona hijau, oranye, atau merah.

"Dan tadi balik lagi, kesadaran dalam hal IMB aja nggak merhatiin. Kan biasanya kalau IMB kan ada gambarnya dulu ya, kemudian juga dievaluasi apakah posisinya itu mereka ada di zona hijau, zona oranye, atau zona merah," ucap Teten.

Pengalaman Ade di Kampung Muril Rahayu, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menunjukkan bahwa penguatan bangunan dapat mengubah cara sebuah rumah menghadapi guncangan. Rumahnya diperbaiki dengan fondasi cakar ayam dan ram kawat pada dinding, lalu menjadi salah satu rumah yang lebih tahan gempa di kampung tersebut.

"Jadi isi konstruksi bangunan itu ram kawat biar enggak gampang ambruk dan berjatuhan materialnya. Kemudian fondasi juga diperkuat. Saya kebetulan ikut membantu pembangunan, ada 4 rumah yang saya bantu pembangunannya," kata Ade.

Kepala Pelaksana BPBD Garut Aah Anwar Saefulloh mengatakan gempa berada di luar kendali manusia. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi dampaknya.

"Untuk gempa itu di luar kuasa kita. Murni karena alam. Kita hanya bisa melakukan pencegahan dan meminimalkan dampak, dengan edukasi, untuk penyelamatan," ungkap Aah.

Namun, pencegahan juga berarti memastikan warga tidak dipaksa memilih antara rumah yang rapuh dan kehidupan yang terputus.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten mengatakan hasil evaluasi menunjukkan banyak rumah warga belum memenuhi standar ketahanan gempa.

"Jadi kebanyakan yang kami lihat dan hasil evaluasi BNPB, bahwa betul struktur bangunan itu belum layak (tidak tahan gempa)," kata Teten.

Ia menilai mitigasi struktural sering diabaikan, termasuk dalam perizinan bangunan. Pemerintah juga masih memiliki pekerjaan rumah dalam pengawasan.

"Dan ini kritik juga terhadap kita, terhadap pemerintah kadang-kadang kita juga lemah dalam melakukan monitoring dan evaluasi. Ini yang selalu menjadi bahan kita melakukan evaluasi ya dengan teman-teman kabupaten/kota," katanya.

Rumah tahan gempa di Kampung Muril Rahayu, Kabupaten Bandung Barat, setelah Sesar Lembang
Rumah tahan gempa di Kampung Muril Rahayu, Kabupaten Bandung Barat, setelah gempa Sesar Lembang. Foto: Whisnu Pradana

Jawa Barat menunggu guncangan berikutnya

Jawa Barat dilintasi Sesar Cimandiri, Citarik, Cugenang, Cisokan, Garsela, Lembang, Baribis, dan sesar-sesar lain. Di laut selatan, zona penunjaman atau megathrust menambah risiko.

Di tengah maraknya pemberitaan gempa, megathrust kerap dibicarakan. Gempa megathrust berbahaya karena pusatnya dalam dan magnitudonya berpotensi sangat besar. Gempa akibat sesar aktif umumnya bermagnitudo lebih kecil, tetapi pusatnya dangkal dan berada di darat. Keduanya sama-sama berbahaya. Namun, menurut Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Edy Slameto, megathrust tidak terjadi setiap saat.

"Karena megathrust itu butuh akumulasi energi yang besar dan pergerakan lempeng itu kan sedikit-sedikit ya kan. Jadi beruntunglah dia hanya dalam hitungan milimeter per tahun sehingga itu akan butuh waktu ratusan tahun untuk terjadinya akumulasi energi yang besar. Sehingga megathrust itu nggak akan setiap tahun terjadi. Dipastikan itu butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun akan terjadi. Kalau sesar aktif yang di darat yang di permukaan tadi, itu bisa anytime terjadi," terang Edy.

Ketika ditanya mana yang lebih rentan, Edy menyebut gempa darat.

"Justru yang di darat. Meskipun magnitudonya kecil. Kecil tapi dia dangkal, dan celakanya umumnya orang membangun di sekitarnya,"

— Edy

Berdasarkan peta geologi PVMBG dan Badan Informasi Geospasial, sekitar 34,19% daratan Jawa Barat—seluas 1.268.432,99 hektare—masuk Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Tinggi, dan 65,28% sisanya, atau 2.421.668,88 hektare, masuk kelas Menengah. Dokumen Kajian Risiko Bencana BPBD Jawa Barat, pemutakhiran analisis 2024, mencatat hampir 49,8 juta penduduk berpotensi terpapar ancaman tersebut.

Grafik kerugian fisik · skenario terburuk

Grafik asli dari Kajian Risiko Bencana BPBD Jawa Barat.

Warga melihat peta arah evakuasi di Kampung Muril, Bandung Barat
Warga melihat peta arah evakuasi di Kampung Muril, Bandung Barat. Foto: Whisnu Pradana

Berapa besar kerugian jika skenario terburuk terjadi?

8 kabupaten/kota kerugian fisik tertinggi · skenario dampak terburuk
Skenario Terburuk

Angka Rp354,19 triliun di bawah ini bukan perkiraan satu gempa atau proyeksi tahunan. Ini adalah skenario dampak terburuk: total potensi kerugian jika gempa melumpuhkan seluruh kabupaten/kota Jawa Barat sekaligus, di semua sektor fisik dan ekonomi — berguna untuk perencanaan mitigasi jangka panjang, bukan prediksi kejadian yang akan datang.

Garut
Rp39,77T
Bogor
Rp36,71T
Bandung
Rp33,85T
Cianjur
Rp28,40T
Tasikmalaya
Rp23,55T
Sumedang
Rp21,00T
Ciamis
Rp18,93T
Sukabumi
Rp6,74T

Total seprovinsi (skenario terburuk): Rp354,19 triliun. Menariknya, Sukabumi — juara frekuensi dan luas bahaya — tidak masuk 8 besar kerugian fisik, kemungkinan karena nilai aset/bangunan yang lebih terkonsentrasi di Garut, Bogor, dan Bandung Raya. Kerugian ekonomi tertinggi justru tercatat di Sukabumi: Rp12,18 miliar, jauh di bawah triliunan kerugian fisik wilayah lain.

Sumber resmi: Dokumen Kajian Risiko Bencana Provinsi Jawa Barat, BPBD Jawa Barat, pemutakhiran analisis 2024. Angka merupakan skenario dampak terburuk, bukan prediksi satu kejadian.

Matriks risiko · bahaya, kerentanan, kapasitas

Baca silang empat lapis risiko di tingkat kabupaten/kota.

Bagaimana risiko akhirnya dinilai?

Sintesis kelas bahaya, kerentanan, dan kapasitas · BPBD Jabar 2024
Provinsi Jawa Barat
TinggiBahaya
TinggiKerentanan
SedangKapasitas
TinggiRisiko Akhir
4 dari 27 kabupaten/kota berkelas risiko akhir Tinggi:
Wilayah Bahaya Kerentanan Kapasitas Risiko
Kab. Bandung Tinggi Tinggi Sedang Tinggi
Kab. Sumedang Tinggi Tinggi Sedang Tinggi
Kota Bandung Tinggi Tinggi Sedang Tinggi
Kota Sukabumi Tinggi Tinggi Sedang Tinggi

Sisanya berkelas Sedang — kapasitas penanggulangan bencana yang ada sedikit meredam tingginya bahaya dan kerentanan. Menariknya, Kabupaten Sukabumi "hanya" berkelas Sedang meski juara bahaya dan frekuensi, sementara Kota Sukabumi justru masuk kelas Tinggi karena kepadatan penduduknya jauh lebih tinggi.

Sumber resmi: Dokumen Kajian Risiko Bencana Provinsi Jawa Barat, BPBD Jawa Barat, pemutakhiran analisis 2024.

Dua peta, dua angka risiko

Mengapa luas kawasan rawan dapat berbeda bergantung pada metode pengukuran.

Dua Peta, Dua Angka

Mengapa dua peta menghasilkan dua angka luas rawan?

Secara geologis, gempa bumi memang ancaman paling mendasar bagi Jawa Barat. Peta Zona Rawan Bencana Geologi dari PVMBG dan Badan Informasi Geospasial (BIG) — potret statis kondisi tektonik provinsi — menempatkan hampir sepertiga daratan Jawa Barat, tepatnya 34,19% atau 1.268.432,99 hektare, dalam kategori Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Tinggi. Sisanya, 65,28% atau 2.421.668,88 hektare, masuk kelas Menengah. Dengan kata lain: berdiri di atas lanskap tektonik dan zona patahan rawan bukan pengecualian di provinsi ini, melainkan kondisi dasarnya.

Perbedaan angka itu muncul karena kedua peta disusun dengan metode dan tujuan pengukuran yang berbeda. Keduanya sama-sama benar, tetapi tidak sedang mengukur hal yang sama. Angka 1,26 juta hektare berasal dari peta zona rawan geologi yang relatif tetap, cocok untuk memahami mengapa Jawa Barat rawan secara mendasar. Angka 958.037 hektare adalah hasil pemutakhiran pemodelan indeks bahaya spasial KRB 2024 — lebih baru dan lebih presisi memetakan zona merah saat ini, dari total keseluruhan 3.749.198 hektare wilayah berpotensi terdampak (958.037 hektare kelas tinggi, 2.263.296 hektare kelas sedang, dan 527.865 hektare kelas rendah). Untuk pertanyaan "berapa luas yang perlu dimitigasi sekarang", angka KRB 2024 inilah yang dipakai sepanjang laporan ini.

Sumber: Peta Zona Rawan Bencana Geologi PVMBG–BIG dan Dokumen Kajian Risiko Bencana BPBD Jawa Barat, pemutakhiran analisis 2024.

Sekitar 53% dari penduduk yang terpapar itu merupakan warga miskin. Jika seluruh skenario risiko dihitung, potensi kerugian fisik dan ekonomi akibat gempa di Jawa Barat mencapai sekitar Rp354,19 triliun. Angka tersebut merupakan skenario terburuk apabila gempa berdampak luas dan mengenai berbagai sektor secara bersamaan, bukan kepastian bahwa kerugian sebesar itu akan terjadi.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun menjelaskan, angka tersebut berasal dari peta kajian risiko yang menghitung skenario ketika dampak gempa terjadi secara luas di banyak wilayah sekaligus. Kondisi seperti itu sangat jarang terjadi, sehingga angka Rp354,19 triliun harus dibaca sebagai batas potensi dampak, bukan ramalan.

"Kita berdasarkan peta kajian risiko bencana apabila ini menyeluruh, jebret kejadian keseluruhan, tapi ini kan sangat jarang ya kejadian gempa di semua tempat terconnecting. Nah ini angka ini (Rp354,19 triliun) yang keluar," ujar Teten.

Ia menyebut perhitungan tersebut sebagai cara kerja kajian kebencanaan yang sengaja menggunakan skenario paling pahit untuk menguji kesiapan pemerintah dan masyarakat.

"Potensi paling buruk. Kalau di kebencanaan mah kan kita hitungnya pangpaitna gitu ya, paling pait. Ini kondisi terburuk," kata Teten menambahkan.

Penduduk terpapar · kemiskinan memperbesar kerentanan

Statistik asli Kajian Risiko Bencana BPBD Jawa Barat.

Siapa yang paling terpapar?

Kajian Risiko Bencana BPBD Jabar 2024
49,8jt
jiwa berpotensi terpapar bahaya gempa
55.543
penyandang disabilitas terpapar
3,8jt
kelompok usia rentan (balita & lansia)
53%
dari populasi terpapar adalah penduduk miskin

Sumber resmi: Dokumen Kajian Risiko Bencana Provinsi Jawa Barat, BPBD Jawa Barat, pemutakhiran analisis 2024.

Luas kawasan bahaya · wilayah dengan paparan terbesar

Grafik asli Kajian Risiko Bencana BPBD Jawa Barat.

Seberapa luas Jawa Barat berada di zona bahaya?

8 kabupaten/kota terluas · Kajian Risiko Bencana BPBD Jabar 2024
Sukabumi
421.650
Garut
314.619
Bogor
279.522
Cianjur
267.334
Sukabumi (Kota)
240.783
Tasikmalaya
221.717
Bandung
207.943
Ciamis
190.502

Totalnya seprovinsi: 3.749.198 hektare berpotensi terdampak bahaya gempa — 958.037 hektare kelas Tinggi, 2.263.296 hektare kelas Sedang, dan 527.865 hektare kelas Rendah.

Sumber resmi: Dokumen Kajian Risiko Bencana Provinsi Jawa Barat, BPBD Jawa Barat, pemutakhiran analisis 2024.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bandung Barat Dedi Supriadi mengatakan skenario evakuasi disiapkan melalui Desa Tangguh Bencana yang melibatkan relawan, ibu-ibu PKK, pemerintah desa, TNI, dan Polri.

"Kemudian kita juga kan membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana), di dalamnya ada relawan, ibu-ibu PKK, pemerintah desa, TNI dan Polri, semua berperan untuk mengedukasi masyarakat terutama lansia dan anak-anak soal Sesar Lembang ini. Bagaimana dan ke mana mereka harus menyelamatkan diri,"

— Dedi

Di tingkat Jawa Barat, BPBD mendorong kesiapsiagaan hingga keluarga, rukun tetangga, rukun warga, dan perlindungan masyarakat. Titik kumpul juga perlu diperiksa karena perubahan tata ruang dapat mengubah lapangan menjadi permukiman.

"Jadi meskipun kabupaten/kota sudah menetapkan titik kumpul besar, Kota Bandung menetapkan beberapa titik, Sumedang, KBB, tapi titik-titik aman yang di level terkecil itu kita update," ujar Teten.

Gempa bisa berulang di titik yang sama, tetapi waktunya belum dapat dipetakan. Menurut Edy, belum ada teknologi yang dapat memprediksi kapan gempa terjadi, baik hari maupun tanggalnya. Kajian yang menyebut gempa akan terjadi ratusan tahun lagi pun hanya bicara kemungkinan.

"Belum ada teknologi yang bisa memprediksi gempa terjadinya kapan. Hari, tanggal, belum ada. Jadi kalaupun ada katakanlah paper, publikasi atau ahli yang mengatakan bahwa sekian ratus tahun ke depan kemungkinan akan terjadi gempa, pasti dia akan bicara kemungkinan dia nggak bisa memastikan. Itu bisa jadi dari modeling memang bisa dimodelkan ya semua hal apa apalagi kalau sebaran datanya banyak tadi ada sejarah kegempaan segala macam. Bisa dibuat simulasinya memang iya. Tetapi apakah itu suatu kepastian bahwa nanti 100 tahun kemudian pasti terjadi? Nggak bisa, nggak boleh juga begitu. Bukan Tuhan kita ini," pungkas Edy.

Mitigasi, karena itu, tidak boleh berhenti pada papan petunjuk, simulasi, atau titik kumpul. Bagi warga, mitigasi berarti rumah dengan fondasi memadai, sekolah yang tidak kembali retak, serta tempat tinggal aman yang tidak memutus sumber penghidupan.

Di Nagrak, Rodiyah masih memperbaiki retakan rumah. Di Rawacina, Ujang masih bolak-balik ke kampung yang telah kosong untuk merawat sawah. Di Cikangkareng, Ina membawa ingatan tentang tujuh anggota keluarga yang menjadi korban longsor. Di Kampung Muril, Ade masih hidup di rumah yang dibangun lebih kuat setelah Lebaran di pengungsian. Di Kertasari, Nazwa masih mengingat ruang kelas yang berguncang.

Kisah mereka berbeda, tetapi pangkalnya serupa, yakni hidup di wilayah rawan dengan bangunan yang rapuh dan pilihan yang terbatas.

Gempa memang tidak dapat dihentikan. Namun, rumah yang tidak aman, tata ruang yang longgar, edukasi yang tidak merata, dan relokasi tanpa kepastian penghidupan bukanlah takdir alam. Semua itu adalah pekerjaan manusia.

Selama solusi belum sampai ke halaman rumah, warga akan terus melakukan hal yang sama. Menambal retakan, menenangkan anak-anak, menghafal jalur evakuasi, menunggu getaran reda, lalu kembali tidur di bawah atap yang mereka tahu belum sepenuhnya aman.

Rodiyah merumuskannya dengan sederhana, "Mau pindah pun bingung ke mana, mau beli tanah lagi uang dari mana? Belum lagi seluruh penghidupan kami ada di sini. Jadi kalau ada kerusakan seperti plafon ambruk atau dinding retak, ya diperbaiki sebisa mungkin ketimbang harus pindah."